Pengertian Ragam Hias
Ragam hias (disebut juga “motif”) merupakan visualisasi seni kerajinan yang membawa identitas kedaerahan dengan keunikan warisan budaya. Ragam hias pada bahan tekstil merupakan bentuk karya seni rupa yang sudah berkembang sejak zaman prasejarah.
Apa fungsi ragam hias pada bahan tekstil? Motif ragam hias pada bahan tekstil mampu menambah keindahan dan memberi nilai estetik pada kain. Fungsi ragam hias pada bahan tekstil setidaknya digolongkan menjadi dua fungsi, yakni fungsi sakral dan fungsi sekuler.
Fungsi sakral ragam hias meliputi elemen magis dan simbolis. Sedangkan, fungsi sekuler dari ragam hias terdapat elemen estetik dan artistik. Utamanya, ragam hias pada bahan tekstil berfungsi untuk menambah keindahan dan memberikan daya tarik visual.
Motif-motif yang indah dan simetris bisa menambah kesan artistik yang indah pada kain atau bahan tekstil lainnya. Desain-desain menarik pada kain tersebut mencerminkan keahlian dan keterampilan para pengrajin.
Penerapan ragam hias pada bahan tekstil dilakukan dengan berbagai teknik misalnya menyulam, tenun ikat, membatik, bordir, dan menyongket. Tiap-tiap teknik tersebut memiliki cara kerja yang berbeda untuk menciptakan motif desain yang unik.
Teknik sulam misalnya, teknik ini memakai jarum dan benang untuk menambahkan gambar atau motif pada kain. Lalu, teknik membatik akan menggunakan lilin yang dipakai sebagai penutup sebelum kain diwarnai. Tenun ikat memakai teknik pengikatan benang sebelum penenunan.
Fungsi Ragam Hias
Ragam hias mudah ditemukan pada bahan tekstil termasuk kain atau busana. Selain itu, ragam hias juga bisa ditemukan pada senjata, bangunan, furniture, atau instrumen lainnya.
Menurut Ensiklopedia Indonesia, istilah “hias” secara harfiah berarti ragam corak dan bentuk. Definisi ragam hias sama dengan ornamen (Bahasa Latin: “ornare”) yang berarti menghias atau melengkapi.
Hal ini mencerminkan keinginan untuk membuat objek terlihat lebih indah. Ragam hias dalam lingkup tekstil mencakup hal-hal terkait motif dan pola yang menghias kain.
Terdapat fungsi ragam hias sakral dan sekuler. Penjelasan mengenai fungsi ragam hias pada bahan tekstil adalah sebagai berikut:
1. Fungsi Sakral
Fungsi sakral hias pada tekstil terdiri dari fungsi magis dan fungsi simbolis. Dalam konteks magis, ragam hias pada kain dipercaya bisa memberi kekuatan spiritual dan perlindungan bagi pemiliknya. Misal, motif pada kain yang digunakan untuk ritual dipercaya dapat mengusir roh jahat dan memberikan keberuntungan.
Di sisi lain, dalam konteks simbolis, motif-motif hiasan mampu mencerminkan makna yang mendalam, seperti mengidentifikasi kelompok atau status sosial tertentu. Ragam hias yang memiliki nilai-nilai simbolis dan bermakna sesuai dengan norma-norma yang berlaku, seperti tradisi, agama, atau peraturan lainnya.
2. Fungsi Sekuler
Fungsi ragam hias pada tekstil bersifat profan yang mencakup elemen estetik dan artistik. Kedua hal tersebut berperan menambah keindahan bahan tekstil dan menghasilkan daya tarik visual. Desain indah dan simetris memberikan harmoni dan keindahan pada bahan tekstil.
Selain itu, ragam hias mengekspresikan diri dalam desain-desain kreatif yang mencerminkan keahlian dan keterampilan pengrajin. Jenis ragam hias yang berfungsi untuk menambah nilai estetika adalah ragam hias dekoratif.

Penerapan Ragam Hias
Teknik penerapan ragam hias pada bahan tekstil mempunyai cara kerja yang unik, mulai dari teknik sulam, batik, tenun ikat, bordir, hingga songket. Tiap-tiap teknik ini memakai cara dan alat khusus untuk menciptakan motif yang dapat menciptakan beragam variasi desain.
1. Teknik Sulam
Pengrajin membutuhkan jarum dan benang untuk menggambar ragam hias pada kain dengan teknik sulam. Prosedur ini mengharuskan pengrajin menusuk jarum secara manual untuk membuat motif yang diinginkan.
Pengrajin bisa menghasilkan hiasan dengan detail yang baik menggunakan teknik sulam benang, sulam pita, dan sulat manik-manik. Ragam hias tersebut bisa disesuaikan menjadi bermacam tekstur sesuai keinginan.
2. Membatik
Pengrajin membutuhkan lilin yang dipakai sebagai bahan penutup motif kain sebelum diwarnai untuk bisa melakukan teknik membatik. Kain yang ditutupi lilin tersebut akan dicelupkan ke cairan pewarna. Cairan pewarna akan memberi warna pada bagian kain yang tidak tertutup lilin.
Ulangi langkah-langkah tersebut untuk menghasilkan bermacam motif sesuai keinginan. Pengrajin dapat membuat beragam motif, mulai dari geometris, motif fauna, hingga motif flora yang rumit.
3. Tenun Ikat
Pengrajin yang menggunakan teknik tenun ikat akan mengikat benang terlebih dulu sebelum penenunan. Benang yang nantinya dipakai sebagai hiasan akan diikat menjadi simpul tertentu untuk menghasilkan motif yang diinginkan.
Setelah diikat, pengrajin dibantu alat tenun akan mulai menenun untuk menghasilkan pola pada bahan tekstil. Dengan menenun, pengrajin bisa membuat motif yang kuat dan tahan lama.
4. Membordir
Cara membuat motif hiasan dengan teknik bordir memakai benang dan jarum untuk menghias kain. Benang dijahit di atas dan di dalam kain mengikuti pola unik yang telah ditentukan.
Jarum dipakai untuk mengulir benang yang nantinya akan menghasilkan motif unik. Teknik bordir membantu pengrajin untuk membuat variasi pola yang rumit dengan berbagai jenis teknik jahitan dan kombinasi warna yang kreatif.
5. Songket
Cara membuat motif hiasan dengan teknik songket memakai benang emas atau perak. Benang logam berharga tersebut dijalin secara hati-hati pada kain untuk membentuk pola yang khas sesuai keinginan pengrajin.
Pembuatan songket memerlukan keahlian khusus serta ketelatenan mengingat benang logam itu harus ditenun secara rapi. Dengan menyongket, ragam hias pada kain dapat terlihat lebih berkilau dan mewah. Ini memberi sentuhan yang berbeda pada bahan tekstil yang dipakai.
Itulah materi pembelajaran ragam hias pada pelajaran seni budaya. Membentuk ragam hias merupakan satu cara untuk menjaga nilai nilai budaya yang ada.

